Memasuki Dunia Baru Kehidupan Seksual Dan Reproduksi Perempuan Muda

Isu-Isu Utama

1. Mayoritas perempuan muda di sebagian besar wilayah dunia, mulai aktif secara seksual pada umur belasan tahun. Proporsi kasarnya, di negara-negara Amerika Latin dan Karibia sekitar sentengah sampai dua pertiga, di negara-negara maju mencapai tiga perempat atau bahkan lebih, dan di berbagai negara Afrika Sub-Sahara lebih dari 9 dalam 10.

2. Pada sebagian masyarakat, perempuan melakukan hubungan seks pada masa remaja karena mereka diharapkan menikah dan melahirkan anak pada usia muda. Pada masyarakat lainya, pernikahan biasanya dilangsungkan pada usia sedikit lebih tua, tetapi seks pra-nikah sudah biasa. Sebagian masyarakat dapat dipastikan sedang berada dalam masa transisi dari norma sosial yang satu ke yang lain.

3. Terlepas dari norma yang mempengaruhi para perempuan muda usia, hubungan seksual yang dimulai pada usia belasan tahun mengandung risiko-risiko tertentu. Contohnya, para perempuan yang menikah pada usia muda sering tidak bisa banyak berbicara dalam pengambilan keputusan mengenai kesuburan dan kesempatan yang terbatas untuk mengenyam pendidikan atau ketrampilan kerja. Para permpuan yang hamil di luar nikah mungkin harus memutuskan apakah akan menggugurkan kandungannya atau tetap mengasuh anaknya di luar perkawinan. Perempuan, baik yang menikah maupun tidak, sangat rentan terhadap penyakit menular seksual serta perempuan yang sering melahirkan atau melahirkan pada usia muda berisiko melemah kesehatannya.

Para remaja dewasa ini, generasi terbesar dalam usia 10-19 tahun di dalam sejarah, beranjak dewasa di dunia yang sangat berbeda daripada dunia di waktu para orang tua mereka beranjak dewasa. Meskipun laju perubahan berbeda di antara dan di dalam wilayah dunia, masyarakat berada di dalam keadaan kesempatan baru yang membingungkan bagi para pemuda. Perbaikan di bidang transportasi dan komunikasi membuka kesempatan bagi para pemuda, bahkan yang tinggal di daerah-daerah terpencil mengenal orang-orang dengan tradisi dan nilai-nilai kehidupan yang berbeda, walaupun dunia semakin urban dan industrialisasi menawarkan godaan kemajuan dan kesempatan. Kendati demikian, di dunia berkembang, dimana kemiskinan luas dan berkepanjangan, sejumlah keluarga mungkin terpaksa menggagalkan pendidikan anak-anak kalau tenaga mereka dibutuhkan untuk membantu rumah tangga. Di sebagian besar negara, 70-100 persen anak-anak mendaftar di sekolah dasar, tetapi lamanya waktu yang digunakan untuk belajar di sekolah berbeda sekali. Umpamanya, sementara 80 persen perempuan muda di beberapa negara berkembang memperoleh pendidikan dasar, sekurangnya tujuh tahun masa belajar, tetapi di banyak daerah Afrika Sub-Sahara hanya 25 persen atau kurang dari itu yang memperoleh pendidikan serupa.

Pemerintah-pemerintah bertujuan untuk menyediakan pendidikan dasar yang dapat diperoleh secara luas. Oleh sebab itu, perempuan muda di hampir semua negara boleh dikatakan lebih mungkin memperoleh pendidikan dasar daripada yang dulu didapatkan oleh ibu mereka, dan di dunia berkembang perbedaanya bisa sangat besar. Misalnya, di Sudan, 46 persen remaja berumur 15-19 tahun sudah menempuh tujuh tahun atau lebih masa sekolah, dibandingkan dengan 5 persen dari para wanita berumur 40-44 tahun. Begitupun, disparitas, terutama di segi sosio-ekonomi dan di lingkungan kehidupan, masih bertahan.

Waktu Seks dan Perkawinan Berbeda

Perkawinan menandai sebuah transisi penting di dalam kehidupan individu, dan jadwal peristiwa itu dapat mendatangkan dampak yang dramatis terhadap masa depan seorang pemuda. Sementara di sebagian masyarakat pengalaman pertama seksual seorang perempuan kemungkinan dengan suaminya, di masyarakat-masyarakat lainnya permulaan aktivitas seksual tidak begitu erat hubungannya dengan perkawinan. Paling sedikit setengah perempuan muda di negara Afrika Sub-Sahara, mulai hidup bersama pertama kali sebelum usia 18 tahun. Ini mereka lakukan lewat perkawinan formal secara agama atau hukum, atau dengan persetujuan bersama yang mungkin atau tidak akan menjurus pada perkawinan. Tetapi, di beberapa negara di daerah itu, hal yang demikian hanya dilakukan oleh satu dari tujuh. Di Amerika Latin dan di Karibia, 20-40 persen dari wanita muda memasuki hidup bersama, dan di Afrika Utara dan Timur Tengah, proporsinya 30 persen atau kurang. Di Asia, kemungkinan perkawinan awal berbeda sekali, 73 persen perempuan di Bangladesh memasuki kehidupan bersama sebelum usia 18, dibandingkan dengan 14 persen di Filipina dan Sri Langka, dan hanya 5 persen di Cina. Para wanita di negara maju tidak mungkin kawin sebelum usia 18; walaupun di Perancis, Inggris dan Amerika Serikat sebanyak 10-11% melakukannya, tetapi di Jerman dan di Polandia hanya 3-4 persen wanita semuda ini melakukannya.

Melahirkan anak sering dimulai pada usia muda

Di sebagian masyarakat kaum wanita dianjurkan untuk memulai keluarga pada usia muda. Proporsi wanita yang melahirkan anak mereka yang pertama sebelum usia 18 tahun sangat besar hampir di seluruh Afrika Sub-Sahara (misalnya sekitar seperlima di Namibia dan setengah di Niger); kurang dari seperlimanya di bagian terbesar Asia (kecuali di India dan Bangladesh di mana proporsinya masing-masing 30 persen dan 50 persen). Di Amerika Latin dan Karibia 12-28 persen wanita, pertama kali melahirkan pada usia 15-17 tahun; di Afrika Utara dan di Timur Tengah 3-27 persen wanita melahirkan seawal ini. Sekitar setengah dari jumlah para wanita yang mempunyai pendidikan dasar kemungkinan mulai berkeluarga sebelum usia 18 tahun dibandingkan dengan wanita yang kurang pendidikan. Jumlah perempuan muda umur belasan tahun yang melahirkan lebih rendah di Afrika dan Timur Tengah, namun perbandingan berdasarkan tingkat pendidikan adalah lebih besar.

Keluarga berencana di kalangan remaja umumnya rendah

Sebagian perempuan muda ingin segera punya anak namun kebanyakan mereka tidak mau segera punya anak; bahkan di kalangan mereka yang sudah menikah pun di sebagian besar negara-negara paling sedikit dua pertiga yang ingin menangguhkan kelahiran atau menunda kelahiran kedua (Tabel 1). Namun di samping nafsu kesuburan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi apakah dia akan menggunakan keluarga berencana atau KB: status perkawinannya, harapan keluarga serta norma-norma masyarakat, dan kemudahan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan serta obat pencegah kehamilan.

Aktivitas seksual menimbulkan berbagai risiko kesehatan

Melahirkan – terutama kelahiran bayi pertama – mengandung risiko kesehatan bagi semua wanita. Bagi seorang wanita yang kurang dari usia 17 tahun, yang belum mencapai kematangan fisik, risikonya semakin tinggi. Remaja usia muda, terutama mereka yang belum berusia 15 tahun lebih besar kemungkinanya mengalami kelahiran secara prematur (premature labor), keguguran dan kematian bayi atau jabang bayi dalam kandungan, dan kemungkinannya meninggal akibat kehamilan, empat kali lipat daripada wanita yang lebih tua berusia 20 tahun keatas. Lagipula, bayi mereka lebih besar kemungkinanya lahir dengan berat yang kurang normal dan meninggal sebelum usia satu tahun daripada bayi-bayi yang dilahirkan oleh para wanita dewasa.

Wanita muda memerlukan uluran tangan

Para remaja dewasa ini adalah para pemimpin, para pekerja dan para orang tua di masa mendatang. Untuk mengisi peranan ini sebaik-baiknya, mereka memerlukan bimbingan dan dukungan dari keluarga dan masyarakat termasuk perhatian pemerintah yang merasa berkewajiban terhadap perkembangan mereka. Sementara modernisasi ekonomi, urbanisasi dan komunikasi massa merubah prospek dan perilaku para remaja, penyesuaian terhadap cara-cara baru ini kemungkinan kurang menyenangkan dan terkadang sulit. Namun penyesuaian tidak dapat dielakkan.