Kurangnya Peranan Orang Tua Dalam Memberikan Informasi Seputar Seks

Remaja masa kini rentan dengan mendapatkan informasi yang keliru soal seks sebab pembicaraan tentang seks selama ini masih dianggap tabu. Karena tabu membicarakan tentang seks itu para remaja putri yang mengalami pubertas sungkan bertanya pada orang tua dan gurunya. Ia menjelaskan, kalangan remaja putri akhirnya memilih menanyakan perubahan fisiknya saat mengalami masa puber kepada teman sebayanya.

Padahal, informasi yang mereka dapat dari temannya belum tentu benar. Seperti soal menstruasi yang dialami remaja putri masa kini dan selaput dara, mereka sungkan bertanya kepada orang tuanya karena takut dianggap belum waktunya. Ini harus disadari oleh orang tua sekarang. Ia mengemukakan, tabu berbicara seks juga telah berakibat lahirnya berbagai mitos keliru seputar seks yang terlanjur berkembang luas di masyarakat.

Dibutuhkan komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak agar para remaja putri dapat memperoleh informasi yang tepat mengenai seks dan mereka tidak terjerumus kedalam hal-hal yang negatif. Ia mencontohkan, remaja putri yang mendapatkan informasi salah tentang seks akan berakibat fatal seperti kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, penularan HIV/AIDS, dan kanker leher rahim.

Dari hasil penelitian pada tahun 2006, 42,3 persen siswa SMP dan SMU melakukan hubungan seks pertama kali di bangku sekolah yang didasari saling suka dan tanpa paksaan. katanya, menunjukkan bahwa remaja di Indonesia sudah berani bereksplorasi dengan seksualitas mereka. Pembekalan tentang kesehatan reproduksi perlu diberikan sejak dini.

Dengan pembekalan itu mereka akan memiliki pengetahuan yang benar dan akurat mengenai seks sehingga mereka tidak salah arah dalam mengambil keputusan yang tepat.